Ai se eu te pego – Ai se eu te pego

Posted in Tentang Islam dan Ilmu Teknologi on Oktober 25, 2012 by duniawijaya

Ai se eu te pego – Ai se eu te pego

Mengapa Mendaki Gunung

Posted in Tentang Islam dan Ilmu Teknologi on Oktober 21, 2012 by duniawijaya

DARI: riobelajar.co.cc

Bagi orang awam, kiprah petualang seperti Pendaki Gunung selalu mengundang pertanyaan klise : mau apa sih ke sana ?. Pertanyaan sederhana, tetapi sering membuat bingung yang ditanya, atau bahkan mengundang rasa kesal. George F Mallory, pendaki gunung terkenal asal Inggris, mungkin cuma kesal saja ketika menjawab : because it is there, karena gunung ada disitu!, Mallory bersama seorang temannya, menghilang di Pucuk Everest pada tahun 1924. Rata Penuh Beragam jawaban boleh muncul, Soe Hok Gie, salah seorang pendiri Mapala UI, menulisnya dalam sebuah puisi : ” Aku Cinta Padamu Pangrango, Karena Aku cinta Keberanian Hidup ”. Bagi pemuda ini, keberanian hidup itu harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Soe Hok Gie tewas bersama seorang temannya Idhan Lubis, tercekik gas beracun dilereng kerucut Mahameru, Gunung Semeru, 16 Desember 1969, dipelukkan seorang sahabatnya, Herman O Lantang. Pemuda aktif yang sehari-hari terlibat dalam soal-soal pelik di dunia politik ini mungkin menganggap petualangan di gunung sebagai arena untuk melatih keberanian menghadapi hidup. Mungkin pula sebagai pelariannya dari dunia yang digelutinya di kota. Herman O Lantang yakin bahwa sahabatnya itu meninggal dengan senyum dibibir. ” Dia meninggal ditengah sahabat-sahabatnya di alam bebas, jauh dari intrik politik yang kotor ” ujarnya. Motivasi melakukan kegiatan dialam bebas khususnya Mendaki Gunung memang bermacam macam. Manusia mempunyai kebutuhan psikologis seperti halnya kebutuhan-kebutuhan lainnya: Kebutuhan akan pengalaman baru, Kebutuhan untuk berprestasi, dan Kebutuhan untuk diakui oleh masyarakat dan bangsanya. Mendaki gunung adalah salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, disadari atau tidak. Semua ini sah, tentu saja. Sebenarnya yang paling mendasar dari semua motivasi itu adalah rasa ingin tahu yang menjadi jiwa setiap manusia. Rasa ingin tahu adalah dasar kegiatan mendaki gunung dan petualangan lainnya. Keingin-tahuannya setara dengan rasa ingin tahu seorang bocah, dan inilah yang mendorong keberanian dan ketabahan untuk menghadapi tantangan alam. Tetapi apakah sebenarnya keberanian dan ketabahan itu bagi Pendaki Gunung ? Peter Boardman, Pendaki Gunung asal Inggris, menjadi jenuh dengan pujian-pujian yang bertubi-tubi, setelah keberhasilannya mencapai Puncak Everest melalui Dinding Barat Daya yang sulit di tahun 1975. Peter Boardman yang kemudian hilang di Punggung Timur Laut Everest tahun 1982 menulis arti Keberanian dan Ketabahan baginya. ” Dibutuhkan lebih banyak Keberanian untuk menghadapi kehidupan sehari-hari yang sebenarnya lebih kejam daripada bahaya pendakian yang nyata. Ketabahan dibutuhkan lebih banyak untuk bekerja di kota daripada mendaki gunung yang tinggi.” Keberanian dan Ketabahan yang dibutuhkan ketika mendaki gunung cuma sebagian kecil saja dari hidup kita. Bahaya yang mengancam jauh lebih banyak ada didunia peradaban, di perkotaan ketimbang digunung, hutan, dalam goa, dan dimana saja dialam terbuka. Di dunia peradaban modern, di kota, begitu banyak masalah yang membutuhkan Keberanian dan Ketabahan untuk menyelesaikannya. Di gunung, masalah yang kita hadapi hanya satu : ”Bagaimana mencapai puncaknya, lalu turun kembali dengan selamat.” Seorang psikolog pernah mengatakan, ”bahwa mereka yang menggemari petualangan di alam bebas adalah orang-orang yang mencintai Kematian.” Ini pendapat yang salah dan keliru besar. Kenapa? Mereka yang berpetualang di alam bebas sebenarnya begitu menghargai kehidupan ini. Ada keinginan mereka untuk memberi arti yang lebih bernilai dalam hidup ini. Mereka berpetualang di alam bebas untuk mencari arti hidup yang sebenarnya. Tak berlebihan bila seorang ahli filsafat mengatakan: ” Didalam hutan dan alam bebas aku merasa menjadi manusia kembali.” Petualang yang tewas di gunung (kegiatan alam bebas lainnya), bukanlah orang yang mencintai kematian. Kematiannya itu sebenarnya tak berbeda dengan kematian orang lain yang tertabrak mobil di jalan raya atau terbunuh perampok. Yang pasti, Mereka tewas justru dalam usahanya untuk menghargai kehidupan ini. ” Hidup itu harus lebih dari sekedarnya ” tulis Budi Laksmono yang tewas digulung jeram Sungai Alas, Aceh, 1985. George F. Mallory, Soe Hok Gie, Idhan Lubis, Norman Edwin, Didiek Samsu, Peter Boardman, Budi Laksmono, dan banyak lagi petualang dan penjelajah alam bebas lainnya yang gugur dalam misinya, Mereka semua adalah yang sangat menghargai KEHIDUPAN ! HIDUP ADALAH SOAL, KEBERANIAN, MENGHADAPI YANG TANDA TANYA TANPA KITA MENAWAR ” TERIMA DAN HADAPILAH ” Soe Hok Gie Sumber dari buku Norman Edwin ” Mendaki Gunung sebuah tantangan petualangan ” tahun 1987.

Kami Mendaki Gunung Karena Menghargai Hidup

Posted in Tentang Islam dan Ilmu Teknologi on Oktober 21, 2012 by duniawijaya

Sedikit sekali orang yang bisa memahami keadaan seseorang atau keadaan sekitarnya, jika ia tidak terjun langsung atau mengalami apa yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya. Pencinta Alam atau biasa disebut PA, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang – orang ini. Dengan ransel serat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan gagah. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang keluar dari mulut mereka, sambil berkata dalam hatinya, “Ngapain cape – cape naik Gunung. Nyampe ke puncak, turun lagi…mana di sana dingin lagi, hi…!!!!!!!” Tapi tengoklah ketika mereka memberanikan diri bersatu dengan alam dan dididik oleh alam. Mandiri, rasa percaya diri yang penuh, kuat dan mantap mengalir dalam jiwa mereka. Adrenaline yang normal seketika menjadi naik hanya untuk menjawab golongan mayoritas yang tak henti – hentinya mencibir mereka. Dan begitu segalanya terjadi, tak ada lagi yang bisa berkata bahwa mereka adalah pembual !!!!! Peduli pada alam membuat siapapun akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan musuhnya sendiri. Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama. Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi pandangan masyarakat yang berpikiran negative terhadap dampak dari kegiatan ini. Apalagi mereka sudah menyinggung soal kematian yang memang tampaknya lebih dekat pada orang – orang yang terjun di alam bebas ini. “Mati muda yang sia – sia.” Begitu komentar mereka saat mendengar atau membaca anak muda yang tewas di gunung. Padahal soal hidup dan mati, di gunung hanyalah satu dari sekian alternative dari suratan takdir. Tidak di gunung pun, kalau mau mati ya matilah…!!! Kalau selamanya kita harus takut pada kematian, mungkin kita tidak akan mengenal Columbus penemu Benua Amerika. Di gunung, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang anak manusia. Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. Ada banyak luka di tangan, ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan, dan puncak rasa haus, tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan. Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu masih sah – sah saja. Hanya jangan terus – terusan mengangkat dagu, karena walau bagaimanapun, gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia akan kembali ke urat akar di mana dia hidup. Ya, menghargai hidup adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup. Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham, bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam ketertekanan mental dan fisik, juga bagaimana alam berubah menjadi seorang bunda yang tidak henti – hentinya memberikan rasa kasih sayangnya. Kalau golongan mayoritas masih terus saja berpendapat minor soal kegiatan mereka, maka biarkan sajalah. Karena siapapun orangnya yang berpendapat bahwa kegiatan ini hanya mengantarkan nyawa saja, bahwa kegiatan ini hanya sia – sia belaka, tidak ada yang menaifkan hal ini. Mereka cuma tak paham bahwa ada satu cara di mana mereka tidak bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh para petualang ini, yaitu kemenangan saat kaki tiba pada ketinggian. Coba deh….!!!!!!!! sumber: kaskus.us

Kumis Untuk Motivasi Skripsi (Lika-Liku Kuliah)

Posted in Tentang Islam dan Ilmu Teknologi on Oktober 21, 2012 by duniawijaya

INDRA – Sering dengerkan kata Motivasi ? nah, salah satu yang unik bagi saya adalah saat kumis menjadi motivasi untuk menyelesaikan skripsi, hehe… terdengar aneh ya..? Banyak orang menggunakan berbagai cara untuk membangkitkan semangatnya kembali untuk menyelesaikan target yang akan dicapai. akan tetapi terkadang saat semangat itu kendor maka waktu akan menjadi sangat sia-sia. Mungkin ini salah satu yang patut anda coba, khususnya untuk mahasiswa mapala (mahasiswa paling lama) yang menurut survey banyak mahasiswa yang telat lulusnya gara-gara tugas akhir yaitu mengerjakan skripsi. Padahal yang namanya skripsi, kalau dikerjakan secara rutin dan kontinu bisa selesai dalam waktu minimal 2 bulan (percaya gak?) tetapi bukan skripsi namanya kalau dalam pengerjaannya tidak banyak tantangan. Diantaranya, saat kita sudah mengajukan judul skripsi dan ditunjuk dosen pembimbing untuk kita, maka bersegeralah melakukan bimbingan apapun kondisi kita, pada kenyataannya saat semangat itu muncul tantangan pun muncul dengan sulitnya menemui dosen pembimbing, revisi yang sangat banyak, dan banyak lagi. Semua tantangan itu dapat mengendorkan semangat kita untuk menunda pengerkaan skripsi sampai semangat kita muncul. Padahal tantangan yang sama pun akan muncul berbarengan dengan munculnya semangat. Sehingga ini lah yang dapat memperpanjang waktu kuliah kita sampai 10, 11,12, 13,14,15,16,17,18,19, bahkan saya punya teman yang sampai 20 semester baru dia bisa lulus. Luarbiasa bukan? itu baru namanya Mahasiswa BERMUTU (Bermuka Tua) (bisa tua di kampus) heheh… Belum lagi tekanan keluarga yang menuntut kita untuk lulus cepat, yang akhirnya kita merasa sudah terlalu membebankan mereka. Ujung-ujungnya kita usaha sendiri untuk membayar semester tambahan akibat kemalasan dan kelalaian kita saat kuliah, jika tidak dapat membagi waktu, kerja pun dapat menjadi tantangan terbesar dalam menentukan kelulusan kita dan berujung pada 2 pilihan yaitu, Kuliah Selesai atau DO (Drop Out). Gmn tuch…? Sekedar berbagi pengalaman, saya kuliah sampai 12 semester alias 6 tahun pas. Tantangan seperti mahasiswa pada umumnya juga saya alami. akan tetapi saya punya cara lain untuk membangkitkan semangat menyelesaikan skripsi, yaitu dengan berjanji pada diri sendiri. Coba anda tekadkan dalam hati untuk berjanji (nadzar). Waktu itu saya punya janji tidak akan mencukur sehelai bulu kumis saya jika belum sidang skripsi. Bayangkan jika saya menyelesaikan skripsi dalam waktu 3 tahun dan saya tidak mengingkari janji saya maka jadi lah saya Pak Raden atau DenBagus sekali pun. Semakin lama janji itu berjalan, semakin cepat pula saya untuk terus menyelesaikan skripsi. Ketika semangat menurun, saya langsung bercermin dan melihat Kumis saya yang sudah mulai menebal sedikit demi sedikit. Banyak teman dan sahabat menyarankan untuk mencukur kumis saya, tapi buat saya itu sama saja mereka menyuruh saya untuk menyelesaikan skripsi saya. Semakin banyak candaan, ejekan dan guyonan terhadap saya seperti, Pak Kumis, Pak RT, Pak Raden dan malahan ada yang menyagka kalau saya sudah seperti orang yang sudah punya anak 4. Harus saya akui memang saat kumis mulai menebal, saya terlihat sangat Tua. Dan disitulah semangat saya bangkt, bangkit dan terus bangkit seiring berjalannya nadzar atau janji saya. Sampai dosen saya pun menyarankan untuk mencukur kumis saya dan saya hanya meng-iya-kan saja. Sampai setelah skripsi saya di sahkan oleh dosen pembimbing saya kumis saya sudah lumayan TUEBBALLL. Dan akhirnya waktu sidang skripsi pun tiba. saya berpakaian kemeja berdasi dan mengenakan jas hitam dengan kumis BaplanG yang menjadi senjata dan kenangan terakhir saya. karena setelah sidang skripsi saya harus mencukurnya hingga bersih. Sidang pun berjalan lancar dan Alhamdulillah saya dinyatakan lulus dengan yudisium Amat baik. Keesokan Harinya Kumis saya sudah Bersih, wajah cerah dan siap untuk mengikuti acara wisuda. Akan tetapi dari cerita yang saya utarakan memang tidak sedikit tantangan yang lain datang. Tapi intinya, yang namanya Kuliah dimanapun hambatannya, Diri kita lah yang menentukan, apakah kita mau betul-betul lulus atau hanya menyia-nyiakan waktu dan menunda-nunda hingga entah sampai kapan. Mudah-mudahan menjadi bahan motivasi dan bermanfaat….!!!

Alat Evaluasi

Posted in Semester 4 on April 13, 2011 by duniawijaya

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Di negara yang sudah maju pendidikan dipandang sebagai sarana utama untuk memecahkan masalah sosial. Dengan menyelesaiakan masalahsosial yang ada maka dalam perkembanganya setiap masalah yang lain akan dengn mudah terselesaikan karena adanya sumber daya manusia yang mendukung dalan setiap produk yang akan diberikan. Berbeda dengan di negara kita yang tergolong pendidikannya paling terbelakang diantara negara-negara di kawasan ASEAN, bahkan dengan Myanmar dan Vietnam pun kita ketinggalan dalam beberapa hal.
Mungkinkah ini terjadi karena Evaluasi Hasil Belajar di negara kita kurang mendukung ataupun ada yang salah dalam penyusunan evaluasinya ? Masih banyak masalah yang melanda dunia pendidikan di negara kita. Kalaupun di rinci mungkin beleum terselesaikan sampai entah kapan. Dalam menyusun Evaluasi Hasil Belajar, pemerintah memberikan kebebasan di setiap sekolah-sekolah ataupun instansi-instansi yang terkait dalam bidang pendidikan untuk memberikan yang terbaik bagi para siswanya dalam mengenyam pendidikan dan menerima setiap pelajaran yang diberikan oleh setiap guru.
Sehingga dapat meningkatakan kualitas dan mutu daripada sekolahnya itu sendiri dan SDM kita nantinya bisa bersaing dengan Sdm dari luar negeri.Semua ini memang harus di imbangi dengan dana yang mendukung di dalamnya. Anggaran pendidikan sangat penting untuk menunjang seseuatu yang bermutu, ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah kita untuk menaikkan mutu dan kualitas SDM di negara kita. Diakui bahwa kritik- kritik tentang sistem pendidikan yang sering berubah dan tidak seimbang, dan sistem kurikulum yang sering berubah setiap tahun ajaran baru membuat sebagian dari pengurus-pengurus seluruh sekolah dan instansi-instansi harus merubah program yang terdapat dalam Evaluasi Belajar. Namun masalah yang paling parah pada setiap sistem pendidikan di negara ini adalah kurangnya Evaluasi dalan setiap mata pelajaran yang akan diberikan.Sering terjadinya perubahan kurikulum dalam sistem pendidikan kita terutama disebabkan oleh

1. Kurangnya informasi yang dapat diandalkan tentang hasil pendidikan, praktek dan programnya.
2. Kurangnya sistem yang standar untuk memperoleh informasi tersebut.

Kesadaran akan hal tersebut merupakan salah satu langkah ke arah perbaikan, evaluasi dapat memberikan pendekatanyang lebih banyak lagi dalam memberikan informasi kepada dunia pendidikan untuk mengembangkan sistem pendidikan. Dalam upaya memperbaiki suatu tahap pembelajaran di perlukan evaluasi. Kegagalan pembelajaran mungkin terjadi pada perencanaan, pelaksanaan maupun hasil belajar itu sendiri. Maka evaluasi pendidikan hendaknya mencakup evaluasi program, proses dan hasil. Selamaini evaluasi yang dilakukan guru-guru di sekolah umumnya adalah evaluasi hasil belajar. Evaluasi adalah suatu seni atau kreatifitas evaluator dalam rangka untuk mendapatkan data yang falit. Dalam evaluasi hasil belajar penggunaan angket sangat lemah, sebab karena kebanyakan responden tidak jujur dan cara mengatasinya dapat dilengkapi dengan hasil wawancara dan observasi. Penilaian evaluasi merupakan kegiatn pengumpulan data secara sistematis guna membantu para pengambil keputuisan untuk menjawab pertanyaan.
Penilaian biasanya dilakukan untuk kepentingan dalam beberapa keputusan yang akan diambil misalnya: tentang akan digunakan atau tidaknya sesuatu sistem, stategi, dan metode dalam setiap evaluasi hasil belajar. Memulai penilaian atau evaluasi harus berawal dari Das solen (harapan)baru kemudian membuat instrument.Dalam evaluasi tidak hanya menggunakan proses dan hasil tetapi juga dengan menggunakan program evaluasi. Selama ini evaluasi dalam pembelajaran menggunakan beberapa program evaluasi. Program sendiri mengandung pengertian “rencana”.Jadi program adalah sederetan kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena suatu program merupakan kegiatan yang direncanakan maka tentu saja perencanaan itu diarahkan pada pencapaian tujuan.
Dengan demikian maka program itu bertujuan dan keberhasilannya dapat di ukur, Memang dapat dikatakan bahwa setiap orang yang membuat program kegiatan tentu ingin tahu sejauh mana program terebut dapat terlaksana. Pencapaian tujuan tersebut di ukur dengan cara dan alat tetentu. Kegiatan yag bertujuan untuk mengukur keberhasilan tersebut di kenal dengan evaluasi program.

1.2 Rumusan masalah
Permasalahan yang mendasari program evaluasi hasil belajar adalah:
1. Cara menganalisis butir-butir soal dalam bentuk esay ataupun dalam bentuk objektif.
2. Menentukan batas kelulusan.
3. Menganilisis skor baku (ZT).
4. Mengukur konversi nilai

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengetian evaluasi

Banyak definisi evaluasi dapat diperoleh dari buku-buku yang di tulis oleh ahlinya antara lain definisiyang di tulis oleh Ralph Tyler, yaitu Evaluasi adalah proses yang menentukan sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat di capai (Tyler, 1950. Hal. 69).
Pengertian Evaluasi Hasil Belajar sendiri adalah dilihat dari beberapa pengertian. Mengukur : Membandingkan sesuatu dengan satu ukuran ( kuantitatif ) mengetahui keadaan suatu hal menurut apa adanya yang biasanya dinyatakan dalam bilangan taupun penertian “mengukur “ yang lain adalah mengidentifikasi besarnya gejala atau objek. Contoh Pengukuran saat kita melakukan ataupun mengerjakan tes dalam bentuk kuantitatif dalan suatu
evaluasi.
Pengertian “Menilai “ adalah Keputusan terhadap sesuatu ukuran “ baik-buruk” ( kualitatif )- pemberian makna dari hasil pengukuran dengan suatu acuan yang relevan sehingga diperoleh hasil dan kualitas yang bagus.Adapun penertian “menilai “ yang lain adalah mengidentifikasikan besar kecilnya suatu objek dengan.suatu kriterium kemudian diambil keputusan. Contoh Penilaian saat kita merata-rata hasil tes yang dikerjakan tadi menurut standart nilai dalam
bentuk kuantitatif dan kualitatif. Jadi pengertian Evaluasi Hasil Belajar seluruhnya adalah langkah mengukur dan menilai. Evaluasi pengajaran, penaksiran atau penilaian terhadap pertumbuha dan perkembangan mahasiswa yang didasarkan pada tujuan yang telah di tetapkan di dalam kurikulum.

Syarat-syarat alat ukur:
1. Valid ( tepat) mampu mengukur yang seharusnya
2. Reliable (tetap)
3. Praktis
4. Objektif

Macam-macam data
• Data kualitatif adalah data yang berupa diskripsi atau kata-kata
• Data kuantitatif adalah data yang berupa angka

Pengukuran – pengujian – penilaian.
• Pengujian untuk menentukan data dari pengukuran yang akan dipakai.
• Penilaian adalah kegiatan untuk menafsirkan
• Dalam penilaian dipersiapkan dulu alat ukur:

1. Kognitif ( alat ukur: berupa test yang berhubungan dengan pemikiran) pengetahuan dan pemahaman ( tingkat rendah)
• Aplikasi (penerapan)
• Analisis (mengurai)
• Sintesis (menggabungkan)
2. Afektif adalah berhubungan dengan rasa, perilaku. Meliputi:
• Penerimaan
• Pembentukan
• Pola hidup
3. Psikomotorik adalah (alat ukur: berupa test psikomotor). Meliputi:
• Mengindra (persepsi)
• Mengadopsi(meniru)
• Kreatifitas (menceritkan sesuatu yang baru)

Konsep pengukuran dan penilaian adalah:
Konsep pengukuran adalah kegiatan yang ditujukan untuk mengidentifikasi besar kecilnya gejala dapat dengan menggunakan alat-alat yang sudah ditera atau yang belum.Contohnya yaitu tes ujian. Konsep penilaian adalah hasil pengukuran berupa angka jika dibandingkan dengan sesuatu patokan kemudian dibuat pertimbangan maka akan diperoleh hasil. Contohnya kecepatan lari seseorang dan tingkat intelegensi seseorang.

2.2 Tujuan Evaluasi

Tujuan dilakukan evaluasi dalam setiap mata pelajaran yang di berikan oleh guru adalah :
1. Untuk seleksi
2. Untuk mengetahui kemampuan siswa
3. Untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa
4. Untuk penempatan
5. Untuk mengetahui keberhasilan kegiatan belajar-mengajar
6. Untuk memotivasi siswa
7. Untuk mengeksplorasi diri
8. Untuk pelaporan

2.3 Macam-macam alat evaluasi :
1. Tes :
2. 2.Non Tes :

2.4 Sistem Evaluasi hasil belajar

Penilaian dapat dilakukan dalam pembelajaran atau setelah pembelajaran. Pembelajaran tergantung dari kurikulum yang digunakan. KTSP merupakan pengembangan KBK sebagai sistem penilaian masih berdasarkan kompetensi. Kompetensi tidak dapat di ukur secara langsung, harus dijabarkan:

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar ( Kemampuan minimal yang di miliki )

Indikator
( Tujuan dapat berupa pernyataan yang menggunakan kata kerja operasional atau dapat dihitung )
Pembuatan Butir-Butir soal untu mengetahui pencapaian indicator

2.5 Tehnik/Sistem Evaluasi

Sistem evaluasi berkelanjutan artinya setiap kompetensi dasar dibuat indicator kemudian diujikan. Disebut berkelanjutan karena penilaian yang dilakukan dapat dipakai untuk penilaian berikutnya. Pendekatan kriteria atau patokan atau PAP (penilaian acuan patokan).

Tujuan tes meliputi:
1. Untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa.
2. Untuk mengetahui atau mengukur pertumbuhan dan perkembangan siswa.
3. Untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa.
4. Untuk mengetahui hasil pengajaran.
5. Untuk mengetahui pencapaian kurikulum.
6. Untuk mendorong siswa belajar.
7. Untuk mendorong agar dapat mengajar dengan baik dan benar.

2.6 Kelebihan dan kelemahan tes

Dalam alat evaluasi tes dibagi menjadi dua yaitu tes Essay dan Objektif. Memberikan evaluasi kepada siswa sangat penting dalam memberikan kontribusi kepada sisiwa agar bisa menunjukkan kemampuan masing-masing dalam menunjukkan kualitas yang ada pada diri siswa tersebut. Biasanya guru dalam memberikan tes kepada siswa tidak selamanya bisa di mengerti oleh siswa, maka disini siswa bisa menentukan memekai tes mana yang bisa mereka anggap mudah untuk memperoleh nilai yang baik.

Kelebihan tes esay.
• Menyusun soal dengan sangat mudah.
• Siswa bebas menjawab.
• Siswa melatih mengemukakan gagasan.
• Lebih ekonomis.

Kelemahan
• Kurang efektif untuk materi yang skopnya luas.
• Jawabannya hitrogen menyulitkan siswa.
• Baik buruk lisan panjang pendek, tidak sama jawaban menimbulkan evaluasi yang kurang objektif.
• Salah pengertian dalam memahami soal tes
• Koreksi memerlukam waktu dan ketelitian.

Kelebihan tes objektif
1. Menilai dan pelajaran skopnya luas.
2. Jawaban bebas terpimpin
3. Dinilai secara objektif.
4. Pemeriksaan mudah dan cepat.

Kekurangan
1. Kurang memberi kesempatan menyatakan gagasan.
2. Siswa mencoba berspikuasi
3. Memerlukan ketelitian

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pentingnya Evaluasi hasil Belajar

Di dalam setiap pembelajaran pada saat semua bab sudah di berikan oleh seorang guru siswa perlu mendapat evaluasi pada setiap mata pelajaran yang telah di terima selama ini. Biasanya evaluasi di berikan guru per minggu,agar siswa tidak lupa dengan apa yang di ajarkan selama sepekan dan guru bisa menilai prestasi siswanya melalui proses evaluasi. Tehnik evaluasi dalam pembelajaran di Sekolah Dasar dengan menggunakan analisis Tes secara Essay dan Objektif. Analisis objektifnya sendiri dengan soal bertipe PAN yaitu anak di bandingkan dengan kelompok, dan tipe PAP yaitu anak di bandingkan dengan kriteria masing-masing individu.

 Macam- macam bentuk soal:
1. Soal essay( tes uraian)
Secara umum tes essay adalah pertanyaan yang menurut siswa menjawab dalam bentuk menguraikan, menjelaskan mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Maka dalam tes dituntut kemampuan siswa untuk menggeneralisasikan gagasannya melalui bahasan, tulisan (Nana Sujana, 1992: 35), Sehingga tipe essay tes lebih bersifat power tes.

Bentuk essay tes atau uraian dibedakan menjadi tiga
a) Pertanyaan bebas, bentuk pertanyaan diarahkan pada pertanyaan bebas dan jawaban siswa tidak dibatasi tergantung pada pandangan siswa.
b) Pertanyaan terbatas, pertanyaan pada hal-hal tetentu atau ada pembatasan tetentu. Pembatasandapat dilaihat dari segi ruang lingkupnya, sudut pandang jawaban dan indicator.
c) Pertanyaan terstruktur, merupakan bentuk antara soal-soal objektif dan essay. Soal dalam bentuk ini merupakan serangkaian jawaban singakat sekalipun bersifat terbuka dan bebas jawabannya.

2. Soal Objektif
Tes ini lebih baru dari tes essay tetapi tes ini banyak digunakan dalam menilai hasil belajar di sekolah-sekolah. Hal ini disebabkan antara lain karena luasnya bahan pelajaran yang dapat dia capai dalam tes dan mudahnya menilai jawaban siswa. Tes ini dikategorikan selalu menghasilkan nilai yang sama meskipun yang menilai guru yang berbeda atau guru yang sama pada waktu yang berbeda. Tes objektif lebih dikategorikan pada spit tes. Tes soal objektif dibagi menjadi 4:
a) True fals (benar salah) Pertanyaannya berupa kalimat-kalimat pertanyyan yang mengandung dua kemungkinan benar salah. Tentu siswa di minta untuk menentukan kalimat yang mana dianggap benar salah.
b) Matching tes ( menjodohkan), tes menjodohkan tes ini terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama berisi kata-kata pertanyaan diman akata-kata ini memiliki jodoh atau pasangannya pada kelompok kedua. Tugas siswa ialah menjodohkan masing-masing kata atau pertanyaan tersebut dari kelompok satu dan kelompok kedua.
c) Fill- in tes ( tes isian) tes isian siswa diminta untuk mengisikalimat yang masih kosong. Kadang-kadang berupa cerita bagian yang penting dihilangkan. Siswa diminta untuk mengisi bagian yang kosong tersebut. Misalnya, pada tangga 17 Agustus Republik Indonesia menyatakan kemerdekaan.
d) Multiplae choice (pilihan ganda) tes pilihan ganda untuk setiap pertanyaan disediakan 3,4,5, alternative jawaban. Untuk itu siswa diminta memilih satu jawaban yang paling benar dari alternative jawaban tersebut. Misalnya, pendiri organisasi muhamadiyah adalah
a) KH. Ahcmad Dahlan
b) KH. Muhammad Mansyur.
c) KH. A. Ashar Basyir d. KH. AR Fahrudin.

Persoalan yang dihadapi pilihan ganda adalah untuk menyediakan sejumlah jawaban yang baik memang sukar, antara lain jangan sampai jawaban yang benar itu begitu menyolok, sehingga siswa cenderung mudah menebak untuk memilih jawaban tesebut. selain itu, juga membuat pengecoh soal serhingga tidak mudah ditebak oleh siswa. Maka untuk menghindari itu sebaiknya jawaban sedikitnya antara 4 atau 5 dan jawaban masing-masing pertanyaan hendaknya dibuat variasi dan konstan jawabannya.

3.2 Langkah penyusunan alat atau penulisan Evaluasi Hasil Belajar adalah:

1. Tentukan TIU dan TIK
TIU merupakan pernyataan yang barang kali masih memberikan kemungkinan dengan interprestasi terutama tentang prestasi macam apa diharapkan dari sasaran belajar melalui proses belajar tertentu. TIK dapat dikatakan operasional atau spesifik, maka TIK lebih memperlihatkan perumusan bahan perilaku sasaran didik secara terperinci yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam program pengajaran TIU dan TIK yang menjadi sasaran dari hasil belajar. Maka langkah-langkah menyusun soal adalah:

a) Soal disesuaikan TIU dan TIK yang telah ditentukan.
b) Memperhatikan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
c) Menentukan ability yang diukur atau soal mampu mengungkap kemampuan dalam ability tersebut.
d) Menentukan materi yang akan ditanyakan dan dituangkan dalam bentuk kisi-kisi soal.

3.3 Prinsip dasar EHB

1. Hasil sesuai dengan TIU dan TIK
2. Mengukur sampel representatif .
3. Mencakup bermacam bentuk soal.
4. Memperbaiki cara belajar-mengajar
5. Didesain untuk memperoleh hasil yang di inginkan
6. Reliable dan Valid
7. Kemampuan diskriminatif
8. Objektif dan praktis

Menentukan kisi-kisi soal
Untuk menjaga agar soal tes yang kita susun tidak menyimpang dari bahan atau materi serta aspek yang akan diungkapkan dalam tes, buatlah sebuah table spesifikasi atau kisi-kisi. Kisi-kisi soal adalah sebuah table yang memuat perincian materi dan tingkah laku beserta imbangan atau proporsi yang dihenddaki oleh penilai atau guru. Dalam kisi-kisi akan dicantumkam bahan pengajaran yang hendak diukur, jenis kompetensi yang akan diukur, jumlah soal, bentuk soal, taraf kesukaran maupun waktu yang cocok untuk melakukan ujian. Contoh: table spesifikasi atau kisi-kisi yang dimulai dari pengisian sel-sel baru kemudian diperoleh jumlah soal tiap pokok materi.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
a) Sebelum melaksanakan evaluasi seorang perlu mengetahui prosedur atau langkah-langkah yang sistematis agar evaluasi dapat diteliti, relevan dan menyeluruh.
b) Evaluasi yang baik haruslah didasarkan pada tujuan yang ditetapkan oleh pengajar dan kemudian benar-benar diusahakan pencapaiannya oleh pengajar dan peserta didik
c) Evaluasi dapat memberikan manfaat untuk menggali sejauh mana tujuan suatu program dapat tercapai, apakah sudah sesuai dengan rencana atau belum
d) Evaluasi dapat menunjukkan jabaran terhadap sebab-sebab kegagalan maupun keberhasilan suatu program pendidikan
e) Evaluasi sangat bermanfaat untuk mendapatkan kepuasan psikologis bagi orang-orang yang sedang belajar, karena dengan evaluasi mereka dapat mengetahui hasil dari usaha belajar yang telah dilakukannya.

4.2 Saran
Bagi guru sangatlah bagus apabila menerapkan evaluasi hasil belajar, karena dengan evaluasi dapat menggali suatu pengalaman yang pernah dilakukan dalam proses belajar. Dan evaluasi merupakan kegiatan yang luas, kompleks dan terus menerus mengetahui proses dan hasil pelaksanaan sisitem pendidikan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

M. Ngalim Purwanto, 1991: Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Remaja Rosdakarya Bandung.
Nana Sudjana, 1992: Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung.
Nasrum Harapap, dkk, 1982: Teknik Penilaian Hasil Belajar, Bulan Bintang, Jakarta.
Suharmisi Arikunto, 1986: Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Bina Aksara.
Suke Silverius, 1991: Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, Gramedia, Jakarta.

60% Anak Gaza Menderita Kurang Gizi Dan Anemia

Posted in Tentang Islam dan Ilmu Teknologi on April 13, 2011 by duniawijaya

Jamal Al-Khudari, Ketua Komite Melawan Pengepungan, menyatakan Minggu (4/4) bahwa sekitar 60 persen anak Gaza menderita kekurangan gizi dan anemia.

Khudari mengatakan juga bahwa 35 persen dari korban blokade adalah anak-anak.

Dalam pidato pada upacara pembukaan Festival Anak Usia 10 Tahun Palestina, Khudari menyerukan kepada semua lembaga yang bergerak dalam perhatian kepada anak-anak untuk membantu anak-anak Gaza melalui pembentukan proyek-proyek yang mengembangkan kemampuan mereka dan memperbaiki kehidupan mereka.

Bisa dikatakan bahwa anak-anak Gaza menghadapi kesulitan dan krisis setiap hari.

Khudari menegaskan bahwa agresi Israel yang terakhir telah meningkatkan penderitaan anak-anak Gaza, di mana ratusan orang tewas, terluka dan cacat. Belum lagi puluhan anak-anak Palestina di penjara-penjara Israel.

Dalam siaran pers yang diterima oleh Pusat Informasi Palestina (PIC), Khudari menambahkan bahwa pertengahan April mungkin akan ada bantuan baru yang akan tiba di Gaza.

Khudari juga menekankan bahwa saat ini masyarakat Gaza tidak mendapatkan air bersih. (sa/pic)

Ketika Anak Kecil Yahudi Diajarkan Membunuh

Posted in Tentang Islam dan Ilmu Teknologi on April 13, 2011 by duniawijaya

Selama ini, media massa internasional mengatakan bahwa anak-anak kecil Palestina sudah dilatih “kekerasan” sejak dini.

Pernyataan itu didukung oleh foto-foto yang menggambarkan anak-anak kecil Palestina tengah menenteng senjata.

Anak-anak Palestinaitu disebut sebagai calon teroris dan sebagainya yang menggambarkan kekejaman umat Islam.

Kenyataan yang sebenarnya, anak-anak Palestina memang dikondisikan untuk bisa mempertahankan diri dari serangan Zionis Israel yang dengan sekonyong-konyong bisa datang kapan saja dan melakukan pembunuhan. Seperti yang terjadi pada peristiwa Gaza, Januari silam. Lagipula, senjata yang dipergunakan oleh anak-anak Palestina lebih banyak menggunakan batu atau ketapel.

Nah, bagaimana dengan anak-anak Yahudi sendiri? Media massa terus-terang tak banyak yang meliput aktivitas anak-anak kecil Yahudi. Bahkan sejak dari kecil, anak-anak Yahudi ternyata sudah diajari untuk menembak. Mereka mempunyai jam khusus untuk pelatihan yang rutin diadakan.

Di sekolahpun, dalam beberapa mata pelajaran, anak-anak Yahudi sudah dibiasakan untuk menganggap orang Palestina sebagai musuhnya. Misalnya saja, dalam pelajaran Matematika, anak-anak kecil Yahudi kerap diajarkan, “Jika ada anak Palestina berjumlah 10 orang, kamu tembak mati satu orang, berapa sisanya?”

Nah, sekarang, bagaimana kata dunia? (sa/poj)