Empat Mastermind di belakang Bom Marriot

Empat Mastermind di belakang Bom Marriot

Bagaimana analisa Bapak terhadap peristiwa meledaknya Bom di Hotel JW Marriot?

Melihat jenis ledakannya, termasuk jenis ledakan yang dahsyat (High eksploisif), sehingga untuk melakukan ledakan seperti itu, perlu persiapan-persiapan yang cukup cermat dan perlu orang-orang yang tidak sembarangan, tetapi harus profesional. Karena itu tidak mungkin dilakukan secara tergesa-gesa dalam peledakan peristiwa itu.

Dan melihat Marriot sebagai lokasi, maka targetnya menurut saya adalah membangun opini internasional dengan ledakan itu. Sehingga timbul kesan, bahwa ledakan tersebut bisa mencekam dan membuat turis asing segan ke Indonesia, dan investasi dari luar negeri tidak masuk ke Indonesia. Dan target membangun opini internasional terrsebut tercapai.

Mengenai lokasi dipilih sangat tepat, pertama hotel internasional bintang lima sehingga dengan demikian efek internasional. Apalagi milik pengusaha Amerika, dan juga banyak orang-orang Amerika yang menginap di sana. Dan juga pernah ada peringatan hari independen day dilakukan di hotel tersebut. Jadi kelihatan sekali memberi kesan sasarannya, merupakan simbol kedua Amerika.

Sekarang, timbul pertanyaan dan orang lantas menduga-duga, ini pekerjaan Jama’ah Islamiyah (JI) sebagai tertuduh utamanya. Dan isu JI yang melakukan pengeboman juga digelindingkan oleh Luar Negeri, diantaranya PM Australia, Jhon Howard, yang mengatakan JI dibalik peledakan Bom Marriot, seperti halnya terjadi pada ledakan Bom di Bali.

Dengan rentetan tersebut, berdasarkan analisa intelijen secara deduktif, timbul pertanyaan menarik kenapa 20 kamar yang dipesan untuk tamu kedutaan besar AS dibatalkan?. Dan menimbulkan analisa spekulasi secara deduktif, yaitu apakah pembatalan ini karena dapat info atau kebetulan? Ini merupakan sesuatu yang harus ditelusuri dan dicermati, dalam konteks, jika yang dituduhkan adalah JI atau jaringan al-Qaeda. Maka bisa saja ada suatu rekayasa atau persiapan yang memang direncanakan untuk diarahkan opininya kepada JI atau al-Qaeda tadi. Kalau seperti itu menurut saya, artinya umat Islam selalu dijadikan sasaran “kambing hitam” atau obyek sasaran dari teroris.

Bagaimana dengan opini yang berkembang peledakan tersebut dilakukan JI, karena terkait dengan ancaman hukuman mati bagi Amrozi Cs?

Saya kira tidak bisa seperti itu. Mengambil kesimpulan gegabah dengan mengaitkan dan menuduh pelaku Bom Marriot adalah JI di Indonesia. Dan juga kalau secara akal sehat, jika Amrozi Cs yang melakukan, kelihatannya, sudah disapu bersih dan terperangkap oleh rekayasa intelijen (menjadi korban rekayasa besar). Dan jika masih ada sisa jaringanannya, tidak mungkin bisa berbuat yang kedua kalinya.

Apakah Amerika tidak merasa cukup dengan isu Bom Bali, meyakinkan adanya JI dan jaringan terorismenya ada di Indonesia?
Tidak cukup, harus ada fakta lagi, sehingga pemerintah yakin betul adanya bahaya terorisme, oleh Jama’ah Islamiyah, yang harus disapu bersih. Dan bisa jadi pembersihan itu bisa dilakukan oleh pemerintah ke kelompok kanan maupun kiri. Dan kelompok kanan maksudnya adalah kelompok Islam yang pendiriannya tegas dan memegang hal yang prinsipil. Itu yang kita khawatirkan.

Adakah korelasi antara tuduhan ledakan bom di lakukan oleh JI dengan Pemilu 2004, yaitu untuk memperbesar opini Islam phobia?
Kembali ke bom tadi, saya belum mengatakan pihak mana, tetapi ada kemungkinannya Amerika yang melakukan. Saya kira, kalau kita bicara pihak yang melakukan pemboman itu ada pihak yang tidak puas dengan keadaan sekarang, atau antipati terhadap pemerintah. Pihak-pihak tersebut ada banyak, kalau kita identifikasi, pertama GAM yang mulai terpojok dan terjepit di Aceh. Sehingga untuk memperluas konflik melakukan teror disini. Kedua pihak-pihak yang masih mimpi untuk come back, pada masa orde baru, dengan cara menimbulkan distabilisasi. Ledakan Bom tersebut sebagai salah satu jalan untuk menimbulkan kekacauan. Ketiga, pihak-pihak yang dibayar dalam persaingan bisnis dengan luar negeri, seperti kunjungan turis asing. Saya tidak mengatakan Singapura, tetapi bisa saja Singapura mempunyai kepentingan dalam berlomba mencari sasaran bisnis, terutama turis asing. Itu kira-kira pihak-pihak yang menjadi mastermind. Sekarang yang keempat, jika ada kemungkinan dilakukan oleh JI, saya kira adalah sel yang telah disusupi oleh pihak-pihak intelijen. Mungkin saja pihak asing yang mau memojokan umat Islam.

Apakah temuan dokumen JI yang isinya memuat tempat strategis target pemboman, merupaka suatu rekayasa dan pembenaran untuk menumpas gerakan Islam yang diidentifikasi sebagai JI?
Ya, bisa saja demikian. Artinya, jika kita bicara dunia intelijen, dalam sejarah misalnya, organisasi seperti DI/TII bisa saja telah disusupi oleh intelijen, yang dilakukan oleh orang-orang Ali Murtopo. Begitu juga dengan JI, bisa saja telah disusupi oleh pihak asing. Mereka yang lugu-lugu itu, telah disusupi kemudian diprovokasi untuk melakukan berbagai hal.

Jika melihat dari tempatnya, adakah kemungkinan yang melakukan dari militer?
Kalau pelakunya sih ada kemungkinan dari militer. Tetapi untuk “mastermindnya” saya kira yang empat tadi. Pelakunya itu mungkin kita sebut sebagai doomed agent. Jadi sebagai doomed agent belum tentu bisa merembet ke yang pelaku sebenarnya. Dia tahunya sebagai pelaksana yang dibayar dan selesai tugasnya. Di dalam dunia teroris bisa seperti itu. Apalagi jika sudah rekayasa intelijen. Itu intinya saya kira.

Kalau dokumen JI sendiri, keabsahannya bagaiamana?
Andaikata itu ada, materi-materinya bisa saja titipan sponsor. Dalam dokumen itu kan ada matreri-materinya. Dan bisa juga dalam intelijen ada perekrutan kepada pihak-pihak tertentu, seperti organisasi JI, yang kemudian dibina hingga menjadi radikal.

Dalam sejarahnya ada tidak yang terbukti sebagai Doomed Agent di Indonesia?
Itukan teorinya, prakteknya Doomed Agent selalu menjadi korban. Dan korban tersebut jarang yang menyeret sponsor, yang memberi tugas, karena sponsor biasanya tidak diketahui. Dalam kasus Bom Bali misalnya, yang menjadi Doomed Agent adalah orang-orang seperti Ali Imron cs.

Dari keempat pihak yang mungkin terkait dengan ledakan Bom di JW Marriot, yang paling kuat yang mana?
Saya tidak bisa mengatakan siapa yang paling kuat. Namanya juga analisa, saya belum bisa menyimpulkannya.

Apakah ledakan bom tersebut, terkait dengan Abu Bakar Baasyir, yang belum ada bukti kuat untuk memenjarakannya?
Saya tidak tahu, jika dihubungkan dengan Abu Bakar Baasyir.

Statemen beberapa orang TNI/Polri, mereka wanti-wanti untuk tidak segera menuduh Jamaah Islamiyah, Bagaimana Pak?
Saya kira pernyataan itu bagus. Kita tunggu saja sampai hasil temuan fakta-fakta di lapangan. Saya kira pandangan Aritonang bagus bicaranya, “menemukan fakta-fakta di lapangan, sehingga ada bukti-bukti yang kuat untuk mengatakan bahwa di belakang ini ada jaringan Jama’ah Islamiyah”. Tadi saya dengar di TV, kalo ini ada hubungannya dengan Jama’ah Islamiyah, bukti-buktinya harus ada dahulu.

Adakah kaitannya dengan prospek pemilu atau suksesi, meledaknya bom yang ada sekarang?
Saya melihat, untuk menggagalkan pemilu maksudnya. Saya kira terlalu jauh. Kecuali kalau teror ini dilakukan, pertama waktunya, sebulan sebelum pemilu, atau dua bulan sebelumnya dan beruntun. Bukan hanya satu kali. Bukan berarti setiap hari, tapi paling tidak setiap minggu ada. Itu bisa kita katakan mengganggu pemilu. Inikan masih lama. Jadi jika ingin mengganggu pemilu, biasanya dilakukan waktunya dekat pemilu. Kedua tidak bisa cukup satu kali, tetapi beruntun, sehingga orang takut turun ke jalan untuk ikut pemilu. Ini kan tidak. Saya kira turis asing yang jadi sasaran atau orang yang berduitlah.

Jika melihat daya ledakannya sama dengan bom Bali?
Jika yang dimaksud Bom Bali adalah yang terjadi di Sari Club, itu tidak pernah diungkapkan. Saya saat itu pernah mau dijadikan saksi ahli. Dan sudah ada surat dari tim Pembela Amrozi untuk menjadi saksi, saya siap. Saya akan ungkapkan itu. Bahwa yang terjadi disana adalah jenis bom nuklir, atau mikro. Tidak seperti yang terjadi di Café Paddy’s, itu berbeda.

Dengan isu Bom ini, apa kepentingan Amerika terhadap Indonesia?
Amerika itu sekarang ingin sebagai polisi dunia. Semua negara tunduk, mengikuti pola yang dia susun. Indonesia ini dianggap masih belum penuh, karena pemerintahnya lemah, sehingga timbul reaksi-reaksi anti Amerika yang juga kuat. Anti juga kepada kebijakan Bush, anti kepada teror yang seakan-akan umat Islam memusuhinya, dan itu kan cukup besar. Pemerintah disini kelihatan cukup lemah dan tidak mau membela Amerika. Jadi, atas dasar itu Amerika marah.

Secara ekonomi Bagaimana?
Melalui atau tanpa IMF, Indonesia dipaksa supaya tetap tergantung. Maksudnya dengan adanya bom ini, Amerika punya kartu-kartu untuk kembali mencengkram Indonesia lebih jauh. Dan kelihatannya ini lebih kepada soal isu teroris. Isu ini hendaknya menjadi keyakinan umum di Indonesia. Sehingga perlu diberantas, tidak setengah-setengah, ragu-ragu, apalagi ada yang menganggap tidak dikaitkan dengan kelompok Islam. Opini ini, yang sedang Amerika galang. Caranya, harus ada peristiwa-peristiwa yang kemudian menuduh bahwa kelompok Islam lah pelakunya.

Jika dikaitkan dengan Jama’ah Islamiyah, apakah mereka ada di Indonesia?
Amerika kan selalu mengaitkan dengan Jama’ah Islamiyah. Itu kelihatan sekali rekayasa, intelijennya

Berarti ini lebih kepada kampanye terorisme?
Ya, kampanye terorisme dan untuk menyudutkan kelompok-kelompok umat Islam yang sudah mereka kelompokkan sebagai kelompok radikal, dan fundamentalis.

Penulis:Soeripto (Ketua Dewan Lesperssi)
sumber Saksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: