KEANEHAN BOM MARRIOTT

Pelakunya warga Amerika atau Israel yang menguasai bom nonkonvensional. Itu analisis Joe Vialls, ahli masalah peledakan dari Australia.

Jakarta CCTV Proves Bush & Howard Lying About “Muslim Terrorists”
Teror bom tampaknya tak akan segera berakhir menghantui Indonesia.. Setelah meledaknya bom di hotel J.W. Marriott (5/8), sejumlah pejabat yang membidangi masalah keamanan – terutama Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono dan Menhan Matori Abdul Djalil — mengungkapkan bahwa ledakan yang lebih besar akan terjadi tepat pada saat peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI (17/8). Tapi, ramalan itu tidak terbukti, karena bom hanya meledak di kawasan konflik Nanggroe Aceh Darussalam, dan itu dianggap sebagai hal yang lumrah. Korban di Tanah rencong sungguh tak dihitung dan dipedulikan betul oleh pemerintahan Megawati. Para petinggi yang sudah berhasil “meneror” rakyatnya sendiri dalam memperingati kemerdekaan ke-58 tahun, tak berkomentar apapun. Tak ada penjelasan, tak ada kata maaf, seperti biasanya. Namun, rakyat semakin tak yakin bahwa kedamaian dan ketenangan akan segera terwujud.

Bom Marriott adalah contoh yang bagus, betapa sebuah rekayasa ketakutan massal selalu mengandung celah kejanggalan. Tak ada yang sempurna dari sebuah operasi yang memiliki target tertentu, dan dilakukan bertubi-tubi, dengan ukuran keberhasilan yang tidak jelas. Itu hanya manifestasi kebijakan penguasa yang merasa terancam, apabila kebohongannya terungkap. Upaya menangkis suara kritis media yang melakukan investigasi intensif, dan analisis para pengamat yang tak mudah ditipu dengan dengan operasi penyesatan.

Salah seorang pengamat yang secara konsisten menentang “kampanye perang terhadap terorisme internasional” yang digencarkan sepihak oleh pemerintah Amerika Serikat adalah Joe Vialls, ahli masalah peledakan dari Australia. Dalam situs pribadinya yang dapat diakses masyarakat di seluruh dunia, Vialls mengungkapkan sejumlah fakta lapangan (hard facts) yang tak terbantahkan dan sekaligus tak terjelaskan. Pendapat PM Australia John Howard dan Presiden AS George W. Bush tergesa-gesa menuding pelaku bom Marriott adalah kelompok “Jemaah Islamiyah” disanggah Vialls habis-habisan. Dengan analisis yang tajam dan bukti-bukti kuat (strong evidents) lebih dari cukup, Vialls berkesimpulan sebaliknya, pelakunya adalah warga Amerika atau Israel yang menguasai bom nonkonvensional.

Jika dalam peristiwa bom Bali (12 Oktober 2002), Vialls berkesimpulan bahwa bom di depan Sari Club berbeda dengan bom yang meledak di Paddy’s Bar, yakni jenis special atomic demolition munition (SADM) – atau lebih dikenal dengan nama “bom nuklir mini” (micro nuke). Simpulan Vialls tentu saja menggegerkan dunia dan menggelisahkan petinggi AS dan Australia yang mengklaim paling berkepentingan dalam menangkal terorisme di dunia dan kawasan Asia Pasifik. Maka, dalam kasus bom Marriott, Vialls menyanggah keterangan Polri – yang didukung penuh oleh Polisi Federal Australia (AFP) dan Biro Investigasi Federal AS (FBI), bahwa bom itu diledakkan seorang operator yang mengendarai mobil Toyoto kijang di depan lobi hotel. Sebuah tipuan jitu untuk membenarkan asosiasi publik, bahwa modus yang sama persis dengan peledakan bom Bali. Namun Vialls membantahnya sekeras mungkin.

Pertama, secara teliti Vialls mengamati bahwa lobang yang terbentuk akibat di lantai lobi setebal 30 sentimeter itu membuktikan bahwa bom dipasang di basement, persis menempel di langit-langitnya. Mungkin saja ada bom di dalam mobil, juga bensin dalam jirigen, tapi itu bukan penyebab lobang besar, karena bahan potasium yang disebut Polri seberat 300 kilogram tak mungkin menimbulkan efek sekuat itu. Bahkan, jika dilontarkan dari udara sekalipun, misalnya menggunakan pesawat tempur atau helikopter, maka lantai beton dan aspal itu belum tentu tembus. Jadi, siapa yang bisa memasang sebuah bom berkekuatan tinggi di sebuah hotel yang memiliki tingkat security paling ketat di Ibukota Jakarta itu? Temuan yang menarik dari Vialls itu perlu ditelusuri dan diuji oleh Polri, jika simpulan aparat tidak ingin ditertawakan oleh para ahli peledakan sedunia. Kebodohan kita hari ini akan menimbulkan penyesalan sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang, ketika rezim kekuasaan berubah dan semua kebohongan terbongkar dengan sendirinya, setidaknya lewat sinyal yang telan dikemukakan Vialls.

Kedua, Vialls amat terkesan dengan rekaman gambar yang disiarkan luas oleh media internasional, bahwa asap putih membumbung tinggi beberapa saat setelah ledakan. Bagi Vialls, dan semua ahli peledakan pasti menyetujuinya, bom berbahan potasium-parafin-TNT yang disebut Polri tidak akan menimbulkan efek semacam itu. Mestinya, kalau keterangan Polri bisa dipercaya (seperti teori bom potasium seberat 1000 kilo yang diledakkan Amrozi cs), efek yang muncul adalah warna hitam kotor yang menyebar secara horizontal. Padahal, yang terjadi justru asap putih menjulang ke atas secara vertikal. Inilah bukti kekuasaan Tuhan yang tidak bisa diakali. Bom dan pelakunya sudah pasti mudah direkayasa, tapi efek dari peledakan dengan bahan tertentu tak ada yang bisa mengakali sesuai dengan keinginannya. Sunnatullah berlaku pada semua peristiwa, tak ada yang luput atau menyimpang. Bahkan, para perekayasa ulung pun harus menaati Sunnatullah, jika rahasianya tidak ingin terbongkar.

Ketiga, Vialls menyaksikan – dan mestinya kita juga membuktikan hal yang sama jika secermat dia – bahwa kaca-kaca lobi yang pecah, ujung serpihannya yang tersisa menjorok keluar. Hal itu tampak jelas ketiga aparat polisi mengumpulkan bukti yang tercecer dan membersihkan puing yang tak perlu. Karena itu asal ledakan, menurut Vialls, kemungkinan besar dari dalam lobi, dimana bom diletakkan di langit-langit basement. Vialls menjadi lebih yakin, tatkala efek ledakan menimbulkan kerusakan kaca jendela apartemen di depan hotel. Bom itu cukup dahsyat, meskipun kekuatannya masih dibawah bom Sari Club, terbukti dari jendela di lantai 25 apartemen ikut rusak.

Sekali lagi, siapa yang memasang bom di langit-langit basement agak menjorok ke dalam lobi, dalam simpulan Vialls? Pertanyaan itu mungkin tidak akan terjawab dalam waktu dekat sebagaimana teka-teki masih menyelimuti bom Bali: mengapa ada kapal asing berbendera Amerika merapat di Bali beberapa hari sebelum ledakan, mengapa banyak tentara Australia yang berada di lokasi dan menjadi korban ledakan tapi segera dievakuasi tanpa visum seperlunya, mengapa saksi-saksi kunci warga Indonesia dibiarkan meninggal terlantar di Australia tanpa pemeriksaan awal dan visum juga? Semakin banyak kecurigaan publik tak berjawab, semakin paranoid para mastermind untuk menimbulkan kekerasan baru. Inilah spiral kekerasan yang akhirnya akan menjerat para pelaku dengan sendirinya, bukan cuma anak muda lugu dan terlalu bersemangat yang dikorbankan.

Keempat, Vialls mendapatkan informasi kunci dari salah seorang manajer hotel yang merasakan keanehan, karena beberapa jam sebelum ledakan para penghuni hotel dan pengunjung berkebangsaan Amerika telah dievakuasi, setidaknya diberi peringatan dini (early warning). Sehingga tak aneh, apabila korban ledakan yang tewas dan luka-luka mayoritas pribumi, hanya seorang warga Belanda yang nahas di hari itu. Padahal, hotel Marriott dikenal sebagai tempat menginap dan rendevouz para ekspatriat. Apakah tak terasa aneh bin ajaib, manakala bom yang meledak di jam makan siang paling sibuk di sebuah hotel langganan warga Amerika, ternyata malah menimbulkan korban warga Belanda dan warga pribumi dari kelas bawah (sopir taksi, satpam, karyawan dan sebagainya)?

Informasi yang didapat Vialls terkonfirmasi dengan keterangan yang diperoleh wartawan dari seorang petugas hotel yang kebingungan: mengapa Kedubes AS membatalkan pemesanan 20 kamar beberapa jam sebelum ledakan? Padahal, acara resmi kedubes sebenarnya akan diadakan beberapa jam setelah ledakan, yakni keesokan harinya. Pertanyaan yang sangat sensitif ini sudah pasti dibantah kedubes AS, sebagaimana pihak kedubes Australia tak merasa perlu menjelaskan: mengapa aparat penyidiknya telah berada di lokasi pada jam-jam pertama setelah ledakan? Sehingga PM Howard dapat memberi konperensi pers yang detail dan valid, meskipun sedang berkunjung di sebuah wilayah terpencil di Cape York, Australia.

Cukuplah analisis Vialls menggagalkan skenario ketakutan dan perlawanan massal terhadap “teroris musuh AS dan sekutunya”. Terlalu banyak keanehan dan kejanggalan yang tak bisa disembunyikan otak perencananya. Sebenarnya dengan meniru kecermatan dan keingintahuan tak terbatas yang dimiliki Joe Vialls, maka kita dapat membuka sebagian tabir yang menutupi jejak “para teroris yang sebenarnya”. Kita perlu mencermati ulang kasus bom Marriott dari sisi: waktu dan lokasi peledakan, serta identifikasi pelaku dan motifnya (lihat Tabel). Dari sanalah terkuak manipulasi fakta dan pencitraan buruk yang berlapis-lapis terhadap kelompok Islam.

NO SISI KESAN YANG DIINGINKAN KENYATAAN YANG TERJADI
1 Waktu Peledakan:

Dua hari menjelang vonis Amrozi dan tuntutan terhadap Ba’asyir.

Ancaman terhadap persidangan (teror untuk hakim), dan modus yang sama seperti operasi bom “bunuh diri” di Bali. Amrozi malah tertawa mendengar vonis mati, Ali Imron juga menyesali perbuatannya dan mengaku merapkan ilmu intelejen. Sedang jaksa yang menuntut Ba’asyir tak dapat membuktikan keterkaitan Ba’asyir dengan “JI”.
2 Lokasi Peledakan: Hotel milik Yahudi-Amerika, tempat berkumpula warga ekspatriat. Ancaman nyata terhadap kepentingan Amerika yang telah menggencarkan perang melawan “terorisme” Al Qaidah dan JI. Kebencian publik domestik terhadap pelaku teror. Mayoritas korban warga Indonedia dari kelas bawah. Hanya seorang korban tewas berkebangsaan Belanda. Sementara warga Amerika aman-tenteram, karena telah dievakuasi dan diperingatkan sebelumnya.
3 Pelaku Peledakan: Asmar Latin Sani cs yang tercatat sebagai alumni Pesantren Ngruki. Pelaku terkait dengan Ba’asyir selaku pendiri Pesantren Ngruki. Anak didiknya kemudian bergabung dalam kelompok “JI” pimpinan Hambali. Kepala Asmar ditemukan di lantai 5 hotel, sementara tubuhnya hancur lebur. Hambali sendiri tertangkap di Thailand dan diserahkan langsung ke CIA untuk dibawa ke Guantanamo.
4 Motif Peledakan: Balas dendam anggota “JI” terhadap kawan-kawannya yang ditangkap dan divonis mati. Kelompok “JI” memang eksis, bukan bualan AS dan sekutunya. Mereka merupakan ancaman bagi pemerintah dan rakyat Indonesia, tak cuma kepentingan AS dan sekutunya. Baik kelompok Lamongan (Amrozi cs), Solo, Serang, atau Bengkulu-Lampung adalah “anggota Darul Islam dari faksi Abdullah Sungkar”. Mereka tak pernah disebut atau menyebut diri “JI” selama ini. Sedang Ba’asyir berada pada faksi berbeda.

Waktu peledakan: terjadi dua hari menjelang vonis persidangan bom Bali atas terdakwa Amrozi dan pembacaan tuntutan terhadap Abu Bakar Ba’asyir. Anak muda Lamongan itu dihukum mati, tapi malah tersenyum dan mengcungkan dua jempol kepada hakim dan para pengunjung yang penuh emosi – sebagian besar bule. Semua terdakwa bom Bali dalam pemeriksaan telah mementahkan skenario yang ingin mengaitkan tindakan mereka dengan sikap politik Ba’asyir, yang dituding sebagai Ketua “Jemaah Islamiyah” (JI) dan pelaku makar terhadap Presiden Megawati. Pemilihan waktu yang tendensius, namun tak “secantik” perancang bom Bali (12 Oktober 2002) yang menetapkan aksinya persis “1 tahun 1 bulan 1 hari” pasca penyerangan terhadap gedung World Trade Centre (11 September 2001). Kesan yang ingin dimunculkan ialah perencana kedua peristiwa peledakan itu sama dan pelakunya berasal dari satu kelompok, dengan target serupa.

Lokasi peledakan: Marriott dikenal sebagai jaringan hotel milik warga AS keturunan Yahudi. Tapi, sesungguhnya di Indonesia merupakan franchise yang dimiliki warga keturunan Cina. Jadi yang dirugikan bukan AS, melainkan warga pribumi. Yang jadi korban juga kebanyakan warga pribumi, sementara warga AS dan sebagian ekspatrait luput karena sudah diberi peringatan dini. Berbeda dengan bom Bali, dimana parlemen Taiwan sempat protes kepada pemerintahnya sendiri, karena informasi dini tentang insiden itu yang diperoleh dari pemerintah AS tak disebarkan kepada warganya. Sehingga jatuhlah korban, termasuk warga Taiwan, yang tidak berdosa. Protes serupa juga dilakukan parlemen Inggris terhadap PM Tony Blair yang hanya melayani kampanye perang Bush, tapi mengabaikan kepentingan esensial warga Inggris. Pemerintah Indonesia, menurut salah seorang perwira Polri, kabarnya mengetahui akan terjadi ledakan beberapa pekan sebelumnya lewat penyadapan email dan SMS. Tapi, keterangan itu dibantah oleh perwira Polri yang lain. Sepertinya ada yang korslet.

Mayoritas korban bom Bali adalah warga Australia dan asing, sehingga menyita perhatian internasional. Apalagi bom Bali terjadi di Jalan Legian, pantai Kuta yang menjadi pusat kunjungan para turis mancanegara. Pemilihan lokasi yang seperti itu mirip insiden di kota Luxor, Mesir tahun 1997 yang diotaki agen Mossad Israel, dengan menjebak operator (dumb agent) anggota “Gamaah Islamiyah” (GI Mesir). Sedangkan mayoritas korban bom Marriott adalah pribumi, dengan maksud untuk menimbulkan “kebencian publik” terhadap teroris yang diburu Amerika dan sekutunya. Karena selama ini pemerintah Indonesia dianggap lembek terhadap “kelompok yang dituding teroris” (lalu diberi cap JI), demikian pula warga Indonesia terkesan toleran dan tak ambil peduli.

Pelaku peledakan: Dalam dua hari, atau 2 kali 24 jam, setelah peledakan, Polri menyatakan pelaku bom Marriott adalah Asmar Latin Sani, yang tewas bersama bom potasium bawaannya. Gubernur Sutiyoso malah berani menyebutnya sebagai “bom bunuh diri” untuk mendramatisasi keadaan. Tidak tanggung-tanggung, bukti bahwa Asmar pelakunya ditunjukkan dengan sepotong kepala yang tercecer di lantai 5 hotel, dan ditemukan sendiri oleh Kapolda Makbul Padmanegara. Dalam konteks ini, Presiden Mega patut memberi tanda jasa kepada Kapolda Makbul, karena menemukan sendiri kepala sang tersangka, sedangkan puluhan aparat penyidik lainnya perlu dipertanyakan apa saja yang mereka kerjakan di lokasi, sehingga luput melihat sepotong kepala – bukti yang istimewa!

Coba bayangkan jika teori polisi itu benar, kepala Asmar copot dari tubuhnya di lantai lobi, lalu menembus kap mobil dan atap lobi yang cukup tebal, hingga akhirnya memecahkan kaca jendela. Sungguh kuat batok kepala Asmar, sehingga tidak hancur menghantam berbagai penghalang itu, bahkan wajahnya seperti disiarkan media massa masih cukup jelas terlihat ciri-ciri utamanya. Ini benar-benar sebuah “keberuntungan” bagi Polri, seperti juga dulu menemukan nomor mesin (chasis) mobil yang hancur dalam bom Bali. Padahal, bom berkekuatan apakah yang mampu melontarkan benda keras setinggi lebih dari 20 meter? Kalau dulu I Made Mangku Pastika mendapat penghargaan internasional berkat hasil penyidikannya, maka sekarang giliran Kapolda Makbul patut dihargai karena menemukan kepala sang tersangka!

Ironisnya, setinggi apapun prestasi polisi domestik tak bakalan melewati kesigapan CIA atau FBI, bahkan dibandingkan polisi Thailand dan negara tetangga masih jauh tertinggal. Buktinya, selang 10 hari setelah meledaknya bom Marriott, justru Encep Nurjaman alias Hambali dicokok di Thailand. Setelah diinterogasi secukupnya, Hambali yang diyakini intelejen lintas negara sebagai pemuka JI dan penghubung Osamah bin Ladin (Al Qaidah) di Asia Tenggara, malah diserahkan ke CIA untuk disekap di Guantanamo, Kuba. Lihatlah, setelah berbulan-bulan didera tekanan domestik dan asing, Polri cuma berhasil mengelandang Amrozi, Ali Ghufron, dan Ali Imron – trio dari Tenggulun – serta Imam Samudera dan Asmar cs.

Sementara buronan kelas kakap semisal Omar al Faruq dan Hambali disergap langsung oleh CIA, sedang Polri dan BIN hanya jadi fasilitator atau informan belaka. Itu artinya seluruh proses penyidikan sangat bergantung pada hasil investigasi – dan interogasi, persuasif atau intimidatif! – yang dilakukan intelejen asing! Polri dan BIN hanya mencari muatan lokal dari skenario global yang sudah dipatenkan CIA.

Lebih tragis lagi, bahkan bendahara atau pemasok dana operasi JI justru ditangkap oleh aparat pemerintah Malaysia (Wan Min Wan Mat cs), dan konon kunci penghubung JI dengan Abu Bakar Ba’asyir disergap di Singapura (Abi Bakar Bafana cs). Polri hanya bisa memeriksa mereka di ruang tahanan negeri jiran, dan membukti hasil pemeriksaan melalui telekonperensi dalam persidangan. Untungnya, kemungkinan proposal yang disodorkan Presiden Gloria Arroyo dari Filipina, agar melibatkan pelarian Fathurrahman al Ghozi tidak terjadi. Atau, jangan-jangan masih ada skenario yang disimpan, bila efek bom Mariott tetap mengecewakan pesan sponsornya.

Motif peledakan: Polri mengungkapkan kemungkinan balas dendam pelaku bom Marriott atas vonis mati bagi para terdakwa peledakan bom Bali. Uniknya tak ada nuansa dendam di wajah Amrozi yang seperti biasa menerima vonis dengan tawa lepasnya. Begitu juga, Ali Imron – yang berpenampilan aneh-aneh selama persidangan dan mengakui sedang menerapkan ilmu intelejen! – malah menyesal atas perbuatannya. Sikap Ali Imron mendapat cemoohan dan komentar pedas dari saudara-saudaranya sendiri. Pelaku bom Bali tampak betul tak kompak, tak ada motif ideologis yang genuine membuktikan bahwa mereka bersatu dalam sebuah organisasi yang solid. Yang tersisa hanya teriakan takbir dan argumen jihad yang dibuat-buat, karena tak sesuai dengan konteks peristiwa yang sedang mereka hadapi. Tak ada satupun individu atau organisasi Islam yang memberi dukungan moral atas nasib mereka, kecuali keprihatinan bahwa anak-anak muda itu hanya jadi “kambing hitam” dari sebuah skenario gelap lintas negara.

Sebagai bukti mencolok bahwa kegiatan keislaman tidak terganggu dan tidak berhubungan sama sekali dengan ulah pelaku bom Bali adalah aksi protes Laskar FPI (Front Pembela Islam) terhadap tindakan terorisme. Mereka turut menentang kekejian pelaku bom Marriott. Beberapa hari kemudian Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menggelar kongres nasional yang kedua di kota Solo. Mereka juga mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan individu atau negara, dan menolak penerapan syariat Islam dengan jalan teror. Semua pesan itu tertangkap jelas lewat sorotan media massa, tapi dunia sudah kadung apriori dengan kelompok “radikal Islam” – julukan pihak Barat untuk kelompok yang ditidak mereka sukai — seperti FPI atau MMI. Kalau organisasi “JI” itu benar-benar eksis dan solid, maka mereka pasti akan menyerang sasaran dengan motif yang jelas dan tidak bias seperti kantor kedubes AS atau Australia, juga memilih target-target spesifik yang tidak melibatkan korban sipil tak berdosa.

Rangkaian peristiwa bom Bali dan bom Marriott mengaburkan segala motif ideologis. Itu bukan pesan teror untuk Amerika dan sekutunya, melainkan untuk pemerintah Indonesia semata: Anda mau mengikuti skenario perang global melawan terorisme “Islam”, atau kami yang memaksa Anda mengikutinya? Bahasa preman Al Capone sedang dipakai oleh Presiden Bush untuk menekan Mega dan kabinetnya yang lemah. Karena itulah tiba-tiba Menhan Matori mengusulkan penerapan ISA (Internal Security Act) di Indonesia secepat mungkin. Menko Susilo segera menyambutnya, tapi memasukkan proposal itu ke lacinya, setelah mendapat serangan gencar dari anggota DPR, pemuka Islam dan aktivis HAM. Lalu, Menkeham Yusril Ihza Mahendra merencanakan revisi UU Antitrorisme sebagai jalan kompromi. Sementara Polri melakukan penangkapan besar-besaran terhadap anggota “JI” di berbagai kota – termasuk mengkait-kaitkan aktivis Mer-C (Medical Emergency Rescue Committee) yang diakui perannya dalam penanganan korban konflik Maluku dan Poso.

Jika semua “setoran politik” itu belum dianggap cukup, maka teror bom (atau ada lagi modus yang lain?) akan merebak kembali, tanpa ada yang bisa mencegahnya.
Penulis:Sapto Waluyo Tim Saksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: