Teori Konspirasi soal Bom JW Marriott

Hari Selasa (5 Agustus 2003) siang, sekitar pukul 14.00 WIB waktu Malaysia atau pukul 13.00 WIB, saya menerima SMS dari seorang wartawan Republika di Jakarta. Isinya singkat: “Hotel JW Marriot dibom, bos Texmaco Sinivasan bunuh diri”. Ternyata, Hari Selasa itu, sekitar pukul 12.44 WIB, Hotel JW Marriot memang dibom. Televisi Malaysia yang biasanya sangat jarang menyiarkan berita tentang Indonesia, kali ini menjadikan berita itu sebagai headline.

Malamnya, TV3 menyiarkan laporan perkembangan berita itu secara langsung dari Jakarta, merelay pemberitaan salah satu TV swasta di Indonesia. Televisi dan media massa di KL selalu memberitakan, bahwa hotel itu adalah milik Amerika, dan media massa sudah menggiring bahwa pelaku dari pengeboman itu adalah Jamaah Islamiyah (JI).😉

Hingga hari Kamis esoknya, arah pemberitaan media massa di Indonesia pun sudah tertuju kepada JI sebagai pelaku pengeboman itu.Pengeboman itu segera mendapatkan liputan luas di dunia internasional dan memancing kecaman-kecaman dari dunia internasional: Australia, AS, Filipina, dan sebagainya. Bahkan, kemudian, banyak negara menawarkan bantuan untuk membantu Polri menyelidiki pengeboman itu. Marilah kita telaah kasus ini, dari perspektif problematika yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, dan dampaknya bagi umat Islam secara keseluruhan. Pada siang hari Rabu itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Basyir Achmad Barmawi dan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Prasetyo mengungkapkan, bahwa kawasan Kuningan, tempat Hotel JW Marriott berada, merupakan salah satu dari 56 sasaran bom oleh Jemaah Islamiyah (JI), seperti yang tercantum dalam dokumen JI yang ditemukan di Semarang beberapa waktu lalu, meskipun dalam dokumen JI, tidak disebutkan secara rinci nama Hotel JW Marriott.

Namun, polisi belum menyebutkan secara jelas bahwa JI berada di balik teror di Marriott karena itu Yang menarik, Kamis (7 Agustus 2003) pagi, Kompas sudah memberitakan, bahwa Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer menyatakan, bom di Jakarta berkaitan dengan Jemaah Islamiyah. Downer mengingatkan kemungkinan serangan baru oleh kelompok militan yang berkaitan dengan Al Qaeda. Downer juga mengatakan kepada wartawan agar warga negara Australia memperhatikan larangan bepergian ke Indonesia dengan serius. Menurut Kompas, sehubungan dengan bom tersebut, seorang operator JI yang tidak diketahui namanya menyebutkan kepada surat kabar Singapura, The Straits Times, bahwa ledakan bom di Hotel JW Marriott itu sebagai “peringatan berdarah” kepada Presiden Megawati Soekarnoputri. Operator JI itu menyatakan, bom yang menewaskan 10 orang itu sebagai, “Pesan untuk dia (Presiden Megawati) dan seluruh musuh kami. Apabila mereka mengeksekusi saudara-saudara Muslim kami, kami akan terus melancarkan kampanye teror di Indonesia dan di kawasan ini”. Polisi sendiri tetap berpegang kepada fakta-fakta di lapangan.

Cobalah kita analisis berita Kompas dan The Straits Times itu. Dari sudut jurnalistik, berita itu sebenarnya berita sampah dan tidak layak muat. Terlepas dari siapa pun yang melakukannya, kita perlu mengkritisi, kemana berita ini akan digiring. Sumber berita The Straits Times, itu adalah “seorang operator JI yang tidak diketahui namanya”. Inilah anehnya. Bagaimana diketahui bahwa sumber berita itu adalah “seorang operator JI”? Berita-berita model seperti ini yang mengarahkan pelaku terror kepada umat Islam – sebelum ada bukti yang jelas — sering terjadi. Biasanya, disebutkan, bahwa pelaku terror menghubungi lewat telepon, atau mengirimkan faksimili yang tidak disebutkan identitas pengirimnya.

Bayangkan, bagaimana jika setelah bom Mariot itu meletus, lalu ada seorang yang mengaku sebagai kader Golkar, dan tidak menyebutkan namanya, mengaku bahwa dialah pelakunya. Apakah media massa boleh menyiarkan berita, bahwa “seorang yang mengaku sebagai kader Golkar telah mengaku melakukan pengeboman itu”. Tugas media massa adalah melakukan klarifikasi atau cek dan ricek terhadap setiap berita yang diterimanya. Jika berita itu meragukan sumbernya, maka seyogyanya, berita itu tidak dimuat. Kita tidak tahu, mengapa Kompas memuat berita dari Tha Straits Times itu. Mengapa bagian dari berita itu sangat perlu kita soroti? Sebab, isi berita itu sangat berbahaya. Yaitu, ingin mengadu domba antara Jamaah Islamiyah dengan Megawati. Simaklah kembali pesan orang tidak bernama itu yang ditulis sebagai operator JI: “Pesan untuk dia (Presiden Megawati) dan seluruh musuh kami.

Apabila mereka mengeksekusi saudara-saudara Muslim kami, kami akan terus melancarkan kampanye teror di Indonesia dan di kawasan ini.” Pesan itu dengan sangat jelas menyatakan, bahwa Megawati adalah musuh Islam dan telah mengeksekusi saudara-saudara Muslim. Terlepas kita kritis terhadap ideology Megawati, tetapi kita perlu fair bertanya, dimana Megawati mengeksekusi kaum Muslim? Megawati bukanlah Ariel Sharon. Redaksi itu kelihatannya dibuat dengan muatan pesan yang sangat canggih, bahwa Jamaah Islamiyah dan kelompok-kelompok militan Islam adalah musuh Megawati, musuh TNI, dan bukan hanya musuh Amerika, Israel, Singapura, atau Australia. Kita perlu melakukan kilas balik sejarah untuk memahami canggihnya pesan singkat itu. Sejak meletus Tragedi WTC, 11 September 2001, AS menggemakan satu politik baru di dunia internasional: yaitu Perang melawan terorisme. Lalu, dibuatlah daftar teroris yang harus diperangi. Yang paling utama adalah al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Dunia dibagi dua oleh Presiden George W. Bush: poros kebaikan dan poros setan.

Kata-kata George W. Bush yang terkenal adalah: “You are with us or you are with the terrorist.” Tidak ada kata abu-abu. Ketika itu, Indonesia masih enggan mausk barisan AS dalam menggempur teroris versi AS. Bahkan, ketika AS menyerang Afghanistan, Indonesia termasuk yang gencar mengkritik. Bahkan, soal JI dan seterusnya, Indonesia masih belum bertindak. Meskipun majalah Time sudah berkali-kali membuat laporan tentang aktivitas JI di Indonesia, dan mengangkat soal Abubakar Baasyir, Indonesia belum mengambil tindakan apa-apa. Wapres Hamzah Haz malah bertemu dengan Abu Bakar Ba’asyir, dan juga Habib Riziq Shihab dan Ja’far Umar Thalib. Titik balik semua itu adalah kasus Bom Bali, 12 Oktober 2002. Apalagi, setelah tertangkapnya Imam Samudera dan kawan-kawan yang mengaku sebagai JI dan mengakui keterlibatan mereka dalam kasus bom Bali. Kini, belum reda kasus Bom Bali, pengadilannya masih berlangsung, meletus lagi kasus Marriot.

Dalam sebuah pertemuan sejumlah pimpinan Ormas Islam dengan Menkopolkam Susilo Bambang Yudhoyono, saya pernah sampaikan kekhawatiran, bahwa terror bom akan meledak di Jakarta, setelah bom Bali, jika respon yang diambil pemerintah RI terhadap kasus Bom Bali, masih dianggap “belum memadai”. Ini jika kita membayangkan, adanya satu “teori konspirasi” bahwa bom Bali bukanlah murni agenda Imam Samudera dan kawan-kawan, tetapi ada agenda-agenda asing lain di Indonesia. Teori konspirasi ini memang sangat sulit dibuktikan, meskipun bisa diraba dan dirasakan. Ketika kasus Marriot itu terjadi, saya berpikir, mengapa Marriot yang dipilih? Apakah karena Marriot milik Amerika? Saya dua kali menghadiri acara makan siang atas undangan seorang diplomat dari satu negara Islam di Hotel itu. Hotel bintang lima itu memang sangat indah dan sukup ramai. Sekali waktu, untuk makan siang saja, harus antre dan tidak kebagian tempat, sehingga harus pindah ke tempat lain. Banyak diplomat asing berkumpul di saat jam makan siang. Mungkin karena itu, maka pihak pengebom memilih pukul 12.44 sebagai saat pengeboman.

Pesan yang ingin disampaikan, tentu, agar aksi mereka mendapatkan perhatian yang luas di dunia internasional, sebab korbannya pun bukan hanya orang Indonesia. Mungkin mereka tahu, pemerintah Indonesia akan lebih responsif jika yang mati rakyatnya sendiri. Tujuan mereka cukup tercapai. Kini, pihak internasional sudah memberikan perhatian besar, dan meminta agar pelaku bom Mariot itu segera dibongkar. Kembali ke pesan orang JI yang tidak dikenal yang dikutip The Starit Times tadi.

Jika – sekali lagi jika – bom Bali dan bom Mariot adalah bagian dari konspirasi kepentingan politik global, maka analisis perlu dibuat secara lebih luas, bahwa kasus ini sudah dirancang dengan sangat canggih, termasuk dampak social politiknya. Kita perlu paham, bahwa yang paling ditakuti pihak AS, Israel, dan sebagainya, pasca Perang Dingin, adalah kelompok-kelompok yang mereka sebut sebagai “Islam militan”, “Islam fundamentalis”, “Islam radikal”, dan sebagainya. Dalam scenario berdasarkan teori konspirasi ini, maka JI adalah pintu masuk untuk menggulung kelompok-kelompok yang sudah dicap militan itu. Karena itulah, begitu terjadi kasus bom Mariot, Menlu Australia Alexander Downer, tidak lupa menyisipkan sebutan “militan” dalam ucapannya.Dia katakan adanya kemungkinan serangan baru oleh kelompok militan yang berkaitan dengan Al Qaeda. Mungkin, pembuat skenario bom Bali belum merasa puas dengan hasilnya, dimana kelompok-kelompok yang dianggap militan Islam atau radikal Islam belum ditumpas habis.

Untuk memperjelas masalah ini, ada baiknya kita simak ucapan Menteri senior Singapura Lee Kuan Yew beberapa waktu lalu. Ketika itu, awal Juni 2002, Lee Kuan Yew membuat beberapa pernyataan penting:
(1) Indonesia adalah sarang Islam militan
(2) Muslim Militan di Asia Tenggara sedang berkomplot menggulingkan pemerintah
(3) Mendesak AS agar membantu militer Indonesia, karena hanya militer yang dapat menumpas Muslim militan.
(Lihat: Koran Tempo, 2 Juni 2002, Media Indonesia, 3 Juni 2002). Pada bulan Februari 2002, Lee Kuan Yew menyatakan, bahwa Singapura masih merasa terancam oleh sel-sel ekstrim teroris yang berkeliaran di Indonesia.

Posisi Singapura yang terjepit oleh Indonesia dan Malaysia, mungkin menyebabkan negara ini mengalami paranoia, bahwa kalau Islam militan yang memegang kekuasaan di Indonesia, atau mereka dibiarkan bebas, maka mereka tidak dapat tidur nyenyak. Karena itulah, Lee Kuan Yew sangat berkepentingan dengan perkembangan politik Indonesia. Pada tahun 1998, Lee Kuan Yew juga mengingatkan Indonesia, agar jangan salah memilih wakil Presiden. Kata Lee, “Pasar uang akan bereaksi sangat negatif kalau sampai Indonesia memilih orang yang salah untuk menjadi wakil presiden.” Pernyataan Lee itu mengarah pada figur Habibie. (Gatra, 21/2/1998). Kita tahu, bahwa para tokoh politik asing itu tidak pernah mendefinisikan secara jelas, siapakah yang disebut “militan.” Apa definisi militan.

Istilah ini sudah digunakan secara serampangan untuk menunjuk kaum Muslim yang tidak disukai Barat. Biasanya, istilah ini diperlebarkan, kepada orang-orang Muslim yang ingin memperjuangkan syariat Islam. Sekarang, perang melawan Islam militan atau fundamentalis sudah identik dengan perang melawan terorisme. Sebab, media massa banyak yang sengaja mengaburkan kedua istilah tersebut. Sebagai contoh, Harian Kompas (31 Januari 2002) dalam berita yang diberi judul “AS Mulai Perang Terorisme di Filipina”, ditulis kata-kata sebagai berikut: “Pasukan Amerika Serikat (AS) membuka front baru dalam memerangi terorisme. Kamis (31/1), mereka mulai menggelar operasi yang dirancang untuk memberi pelatihan memerangi kelompok militan.” Jadi, kita bertanya, yang diperangi oleh AS itu “teroris” atau “militan”? Dalam “Catatan Pinggirnya” di Majalah Tempo, 27 Januari 2002, Gunawan Muhammad menutup tulisannya: “Fundamentalisme memang aneh dan keras dan menakutkan: ia mendasarkan diri pada perbedaan, tetapi pada gilirannya membunuh perbedaan.”

Di Majalah Newsweek, Special Davos Edition, December 2001-February 2002, Francis Fukuyama mencatat: “Radical Islamist, intolerant of all diversity and dissent, have become the fascists of our day. That is what we are fighting against.” Sementara Jaringan Islam Liberal, dalam situsnya, http://www.islamlib.com,/ mencatat: Kekhawatiran akan bangkitnya “ekstremisme” dan “fundamentalisme” agama sempat membuat banyak orang khawatir akhir-akhir ini.

Kita sudah melihat, bahwa dalam perang melawan terorisme, AS bukan hanya memerangi kelompok bersenjata Islam tetapi juga memerangi pendidikan Islam. Karena itulah, AS meminta agar kurikulum pendidikan Islam di Arab Saudi diubah, karena dianggap menyumbang pada radikalisme. Karena ituah, kelompok seperti Islam Liberal, menyambut trend itu dengan ikut memojokkan kaum militan, dengan menyatakan: “pandangan-pandangan keagamaan yang militan biasanya menimbulkan ketegangan antar kelompok-kelompok agama yang ada, sebut saja antara Islam dan Kristen.. Pandangan-pandangan keagamaan yang terbuka, plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis.”

Jadi, jika kita tarik dari pernyataan Lee Kuan Yew, Downer, dan sebagainya, kita perlu merenungkan dengan mendalam, apakah bom-bom Bali, Marriot, atau entah bom mana lagi, ada hubungannya dengan agenda besar Barat menumpas “militan Islam” dengan menggunakan tangan bangsa Indonesia sendiri? Ini pernah terjadi pada kasus adu domba antara Laskar Jihad dengan PDIP di Ngawi, Ramadhan 1423 H. Kasus tuduhan pembunuhan terhadap Megawati oleh JI. Juga, dalam berita The Straits Times dan Kompas tentang Bom Mariot itu. Benarkah? Wallahu a’lam.

Analisis ini bukan untuk membela apakah JI pelaku bom Mariot atau tidak? Yang penting, kasus ini harusnya menjadi pelajaran, semua komponen bangsa untuk mawas diri, dan segera merumuskan agenda bangsa sendiri, serta menentukan strategi dan cara membangkitkan bangsa yang sedang dalam kondisi kritis ini. Agenda bangsa ini sangat besar, dan perlu dirumuskan dengan seksama. Membongkar pelaku pengeboman Hotel Marriot adalah penting, namun, media massa harusnya juga bersikap adil, bahwa pembebasan utang luar negeri yang zalim yang besarnya mencapai Rp 1200 trilyun, juga sangat penting. Karena, utang itu secara tidak langsung telah membunuh jutaan rakyat kita, memiskinkan mereka, merampas hak pendidikan dan kesehatan mereka. Sebab, hak rakyat Indonesia untuk menikmati hasil kekayaan alam, dirampas untuk membayarkan utang yang bukan dibuat mereka dan sekitar Rp 300 trilyun diantaranya diduga kuat dikorup. Belum lagi soal agenda kehancuran moral bangsa yang parah.

Semua itu perlu dipikirkan, agar kita jangan dikelabui bahwa tidak ada masalah yang lebih penting bagi bangsa ini kecuali membahas Imam Samudera dan Marriot. Jika sudah memahami posisi dan aganda kita, maka Insyaallah, kita akan mampu berjalan pada rel yang benar. Mudah-mudahan Bom Mariot tidak membuat lupa akan utang trilyunan rupiah para konglomerat hitam, pelarian uang rakyat ke luar negeri, kasus penjualan Indosat, pencurian ikan, dan sebagainya. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: